Pages

Mimpi Buruk


                Kau tahu rasanya mimpi buruk saat bahkan kau tak sedang tidur? Baiklah, aku pernah. Walaupun, sumpah, ini alay. Kau tahu rasanya? Pasti tidak. Kau tak perlu membayangkan. Karena, biar aku saja yang merasakan. Kau, dan dua puluh tiga anak lain, tak usah. Setiap orang punya pandangan masing-masing, kan?

                Baiklah, kita mulai, ya. Kau hanya perlu membaca. Kala itu tangaal 9. Aku ingat, kan? Hebat. Pagi itu aku bangun pukul setengah 7 pagi. Terrible, karena hari-hari sebelumnya adalah liburan. Padahal itu adalah hari pertama aku dianggap sebagai siswi SMA. Hari pra-MOS sekarang. Secepat mungkin aku makan, mandi, dan mengenakan seragam SMP yang tengah menunggu masa pensiun pakainya. Tas berisi sebuah buku, dan pulpen, kubawa. Sungguh simple dan seperlunya, disamping aku memang terburu-buru. HP? Tak kubawa. Lagian, siapa yang mau SMS aku?
                Kau bisa tebak, di sekolah baruku, anak-anak berseragam sepertiku sudah menghampar dalam barisan-barisan di halaman ehm lapangan depan sekolah yang notabene luas. Aku lari ke barisan terdekat, di sana ada Eta dan Dani. Ada beberapa anak lain yang juga terlambat. Mereka bertanya kelas apa aku. Aku jawab tidak tahu. Mereka lalu menyuruhku melihat papan pengumuman di tepi lapangan.
                Aku melihat dengan cepat, mencari namaku. Karena aku berinisial A, jadi tak perlu melihat sampai ke bawah-bawah. Lagian Cuma aku yang sedang mencari nama di situ. Yang lain? Sudah tergabung dalam barisan kelas masing-masng, tentu.
                Aku mulai mencari dari kertas yang paling kiri. Hm tak ada. Lanjut terus ke kanan. Di kertas ke tujuh aku mulai berpikir namaku tak tercantum sama sekali. Ah macam mana…. Hingga kertas yang paling kanan, yang tepat di hadapanku, aku membacanya sekian kali, dan… tidak ada typo.Di situ, ada namaku, urutan ke lima dari 24 nama. Kertas dengan baris paling sedikit. Dan kertasnya berjudul… X Akselerasi.
                “Kampret.” Begonya kata itu yang pertama keluar. Ha-ha.
                Aku kembali pada barisan Eta-Dani. Mereka bertanya lagi. Aku menjawab terbata. Kemudian mereka menyebutkan sebuah nama yang bakal satu kelas denganku. Asing. Persetan. Aku pergi.
                Dan satu hal penting lain saat ini adalah: dimana barisan kelas saya?
                Logikanya, tadi kertasnya paling ujung, jadi barisannya juga paling ujung, dong? Aku berjalan dari barisan X-1 di ujung timur, terus muterin barisan se-kelas X dari belakang sampai barisan uang paling ujung barat. Plang di sana tertulis X-10. Aksel nggak ada? Ctw. Lagian nggak ada yang kenal. Maksudku belum. Akhirnya aku ngungsi ke barisan X-9, lumayan ada Indah. Soalnya pas jalan tadi aku cari Tia sama Riris nggak ketemu.
                Terus ngobrol. Mereka Tanya. Aku jawab sekenanya. Indah ngejek. Aku melengos. Terus ngobrol lagi. Daripada ngomongin ngobrol nggak jelas, mending flashback. Eaa.
------------------------flashback on------------------
Hari pertama pendaftaran SMA saya, pukul 8 pagi
                “Ris, kamu dimana?”
                “aku udah di sma**, kamu mana?”
                “aku masih di SMP, aku nanti lah daftarnya.”
-dua jam kemudian-
                “aku baru daftar nih, nomer berapa kamu?”
                “aku 29, kamu berapa?”
                “327”
Buset
------------------------------
singkat kata, saya ketrima
------------------------------
Hari psiko test yang telah ditentukan.
                “Kamu Riris? Kamu Tia? Kamu Ace?”
                “Lho Rhe? Kacamatamu mana?”
                “pecah kemarin pas persami”
                “Loh ya ora ndeleng”
--------------------------------
                “Eh, Rhe, kamu ikut yang aksel itu ngga?”
                “nggak tau, angkeku belum ada yang dicoret”
---------------------------------
                “Lah, Ris, tadi pas mau tek kumpulin aku nyoretnya bersedia.”
                “Hah?”
                “tapi katanya mbok masih bisa mundur?”
---------------------------------
                Flashback-nya random ha-ha. Mending end aja. Eaa (lagi).
                Waktu berlalu, kakak-kakak kelas yang mungkin nantinya akan jadi Pembina (?) kami selama MOS, mendekat ke barisan-barisan kelas. Aku juga. Meninggalkan Indah dkk menuju barisan dimana seharusnya aku ada. Anaknya keliatan asik-asik. Itu sugesti dir. Selalu berusaha khusnudzon. Ha-ha.
                “Hai” sap ague, yang tiba tiba muncul pada forum cewek yang paling belakang.
                “Haloooo…” sambar forum itu. “Aksel juga? Siapa nama kamu?”
                Aku memucat. Sial, nama. Nama. Nama. NAMA???
                Siapa nama saya????!!
-Chapter One, end-

0 komentar:

Posting Komentar