Pages

Tampilkan postingan dengan label w h a t e v e r. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label w h a t e v e r. Tampilkan semua postingan

PIUT I: Kisah Jalon dan Keteguhan Hati


Praktikum Ukur Tanah I: Kisah Jalon dan Keteguhan Hati

Hai. Seperti biasa, saya bingung dalam mengawali suatu wacana, sodara-sodara… Jadi, langsung ke ke titik utamanya saja, ya. Jadi saya telah melakukan praktik Ukur Tanah, sodara. Emang itu ngapain? Kurang kerjaan? Iya. Banget. Eh ngga ding. Emang saya sekarang di Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, sodara!

Eh Geodesi apaan? Itu temennya lemper. Beh, gatau Geodesi? Ga g4oL! Tapi postingan selengkapnya besok-besok saya posting. Kapan-kapan. Padahal harusnya sebelum ini, ya. Lupakan.
Praktikum Ukur Tanah I adalah praktikum pertama di semester pertama. Iya, saya maba unyunyu gicuu. Padahal postingan-postingan tentang kuccel baru perkenalan juga. Saya random. Lanjut. Praktikum yang Cuma satu ini Cuma gitu doing. Tapi ribet.

#ff0000

hai
lama tak jumpa
haha gombal lah perkenalanne, basi,

oke, kategorinya di w h a t e v e r, tapi ini tentang Akselerasi
tuh kan gombal.

lupakan

Chapter Two

Sama itu antonimnya beda, ya? terus kalo bersama kok antonimnya sendirian? #teruskenapa #oke ini nggak nyambung #eaa

Terus, pernah nonton film 'Ayah, mengapa aku berbeda?' nggak? Belum pernah ya? Bagus, jangan nonton. Nggak usah. Nggak bakal nangis nonton itu karena pemainnya ganteng. Nah tuh kan nggak nyambung lagi.

Oke, kali ini beneran. Eh kemarin sampe apa ya? Ohya sampe nama.

Mimpi Buruk


                Kau tahu rasanya mimpi buruk saat bahkan kau tak sedang tidur? Baiklah, aku pernah. Walaupun, sumpah, ini alay. Kau tahu rasanya? Pasti tidak. Kau tak perlu membayangkan. Karena, biar aku saja yang merasakan. Kau, dan dua puluh tiga anak lain, tak usah. Setiap orang punya pandangan masing-masing, kan?

Sajak Dua Puluh Satu


Ia adalah ujung senja yang tak akan pernah ku sentuh 


Ia adalah dermaga namun bukan tempat untukku menepi 


Aku hanyalah semacam rintik hujan yang jatuh lalu jejaknya segera hilang 


Dia istimewa 


dan aku menyukainya, ia alasan untuk waktu-waktu yang diam dalam duniaku 


Satu-satunya cara, yang tidak pernah berani ku coba untuk membuatku sedikit lebih bahagia hari ini, adalah menepikan jejak tentangnya... 


Ia pelangi, dan aku penikmatnya, bukan pemiliknya.. 






















-Anindhiya Agustianing Putri, 2011 
------------------------------------------------------